
blitzfemale.com | SURABAYA – Tidak semua perempuan punya waktu untuk benar-benar berhenti. Di tengah jadwal meeting, deadline, dan berbagai peran yang harus dijalani, sering kali yang dikorbankan adalah waktu untuk diri sendiri. Padahal, sesekali “pause” justru menjadi hal yang paling dibutuhkan.
Berangkat dari realita ini, Midtown Residence Surabaya menghadirkan sebuah ruang yang terasa lebih personal melalui acara Kartini’s Mawas & Berdaya. Bukan sekadar perayaan Hari Kartini, tetapi sebuah momen untuk perempuan, khususnya wanita karier untuk kembali terhubung dengan dirinya sendiri.
Menariknya, cara yang dihadirkan tidak rumit. Lewat sesi Stress Release with Knitting DIY, para peserta diajak melakukan aktivitas sederhana seperti merajut. Aktivitas ini hadir dari kolaborasi dengan ibu-ibu PKK Kelurahan Ngagel, dan para wanita karir yang belum bisa merajut, akan di ajari untuk merajut dengan level basic.
“Merajut itu bukan sekadar aktivitas, tapi juga terapi. Kami ingin perempuan, khususnya wanita karier, punya ruang untuk recharge,” ujar Rara, perwakilan ibu-ibu PKK.

Di tengah suasana yang lebih rileks, peserta juga diajak untuk melihat sisi lain dari diri mereka melalui sesi talkshow kesehatan mental bersama dokter spesialis dari Mayapada Hospital. Diskusi ini membuka ruang untuk membicarakan hal-hal yang sering terabaikan, mulai dari tekanan kerja, kelelahan emosional, hingga pentingnya menjaga keseimbangan hidup.
Melalui program CSR M Connect (Midtown Connect), hotel ini secara konsisten menghadirkan kegiatan yang menghubungkan komunitas dan memberikan dampak langsung. Sebuah cara sederhana untuk tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat, terutama perempuan yang terus berkembang di berbagai peran.
“Midtown Residence Surabaya adalah home for you. Kami ingin menghadirkan tempat yang tidak hanya nyaman untuk menginap, tapi juga nyaman untuk kembali,” ujar General Manager, Boegi Setiawan.
Pada akhirnya, Kartini’s Mawas & Berdaya bukan tentang seberapa besar acaranya, tapi tentang momen kecil yang sering terlewat, berhenti sejenak, bernapas, dan memberi ruang untuk diri sendiri.
Dan mungkin, dari seutas benang yang dirajut perlahan, perempuan bisa menemukan kembali ritmenya. (acs)







