blitzfemale.com | BOJONEGORO – Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jawa Timur Arumi Bachsin Emil Dardak mendorong penguatan wastra dan batik Jawa Timur melalui Bojonegoro Wastra Batik Festival 2026. Mewakili Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Arumi membuka festival sekaligus menjadi dewan juri pada Fashion Show Batik Evening Gown dalam rangkaian kegiatan yang digelar di Alun-Alun Kabupaten Bojonegoro pada 17-18 Juni 2026.
Festival yang mengusung tema “Wastrane Bojonegoro Membumi lan Ngamboro ing Bawono” tersebut menjadi ajang strategis untuk memperkuat pelestarian budaya sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis wastra dan batik khas Bojonegoro.
Dalam sambutannya, Arumi menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dan seluruh pihak yang telah menyelenggarakan festival tersebut. Menurutnya, pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi kreatif dan pengembangan pariwisata daerah sehingga memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
“Di tengah dinamika ekonomi global, ekonomi kreatif berbasis budaya merupakan salah satu kekuatan yang tidak mudah tergantikan. Kekayaan budaya adalah keunggulan kompetitif bangsa Indonesia yang apabila dikelola secara kreatif akan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.” ujar Arumi.
Lebih lanjut, Arumi menegaskan bahwa batik bukan sekadar kain, melainkan identitas budaya yang merekam sejarah, filosofi, dan nilai kehidupan masyarakat. Karena itu, pelestarian batik tidak hanya berarti menjaga warisan budaya, tetapi juga membuka peluang usaha dan menciptakan lapangan kerja.
Ia menambahkan, Bojonegoro memiliki kekayaan motif batik khas seperti Sekar Jati, Pari Sumilak, Mliwis Mukti, Jagung Miji Emas, hingga Rancak Thengul yang merepresentasikan kekayaan alam, sejarah, seni, dan kehidupan masyarakat setempat.
Keunikan tersebut menjadi identitas sekaligus daya saing yang perlu terus diperkuat dan diperkenalkan kepada pasar yang lebih luas.
“Karena di setiap motif batik terdapat cerita, makna, keringat, doa, dan kreativitas para pengrajin.” ungkapnya.
Mengingat subsektor fesyen dan wastra merupakan salah satu motor penggerak ekonomi kreatif Jawa Timur, Arumi menegaskan komitmen Pemprov Jatim dan Dekranasda untuk terus memperkuat ekosistem ekonomi kreatif melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan promosi, digitalisasi, perlindungan kekayaan intelektual, serta perluasan akses pasar.
“Tantangan kita ke depan adalah menghadirkan lebih banyak produk kreatif lokal yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun global. Kita juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan generasi muda ikut ambil bagian dalam pelestarian batik melalui inovasi dan pemanfaatan teknologi agar tetap relevan di setiap zaman.” imbuhnya.
Rangkaian festival berlanjut pada Kamis (18/6), dimulai dengan Arumi meninjau stan pameran Dekranasda kabupaten/kota se-Jawa Timur yang menampilkan beragam produk wastra dan kriya unggulan daerah.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga berinteraksi dengan para pelaku UMKM dan perajin yang berpartisipasi dalam festival.
Ketua Dekranasda Prov Jatim Arumi juga didapuk menjadi dewan juri Fashion Show Batik Evening Gown bersama desainer Reza Woo dan Imam Mustafa. Kompetisi tersebut diikuti 27 peserta dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur.
Dalam proses penjurian, Arumi menilai sejumlah aspek mulai dari tata rambut, tata rias, pembawaan model, kualitas bahan batik, hingga desain busana yang ditampilkan.
Menurutnya, keberagaman karakter dan budaya setiap daerah merupakan kekayaan yang dapat menjadi sumber inspirasi dalam pengembangan wastra Indonesia.
Pada kompetisi tersebut, Juara I diraih Pertamina EP Cepu Zona 12 melalui karya “Jagat Tenun”, sedangkan Juara II diraih Kabupaten Banyuwangi melalui karya Batik Gajah Oling.
Dalam kesempatan yang sama, Arumi juga memberikan dukungan kepada Puteri Kebaya Jawa Timur 2026, Sabriena Alodia Caluella, yang mengemban misi pelestarian budaya di kalangan generasi muda.
“Semoga semangat Membumi lan Ngamboro ing Bawono tidak berhenti sebagai tema festival, tetapi menjadi gerakan bersama agar batik Bojonegoro semakin dicintai masyarakat Indonesia dan semakin dikenal di pasar dunia.” pungkasnya. (acs)








