Beranda Fashion “Kita Harus Adaptif dan Regenerasi”, 10 Tahun Basha Market Konsisten Mendukung Produk...

“Kita Harus Adaptif dan Regenerasi”, 10 Tahun Basha Market Konsisten Mendukung Produk Lokal

28
0
"Kita Harus Adaptif dan Regenerasi", 10 Tahun Basha Market Konsisten Mendukung Produk Lokal (foto : ist)

hariansurabaya.com | SURABAYA – Basha Market memulai langkah pertama di 2014, membawa tema Broadway dan memiliki visi untuk menjadi wadah bagi industri kreatif yang saat itu belum banyak di apresiasi. Selama sepuluh tahun lamanya, Basha Market konsisten menjaga semangat kreativitas dan melakukan berbagai inovasi untuk turut berperan membantu brand-brand lokal yang ada di Indonesia.

Kecintaan dan gerakan untuk membeli produk lokal sudah sangat pesat bertumbuh masyarakat kini menyadari bahwa langkah tersebut juga memiliki arti untuk membantu meningkatkan perekonomian bangsa. Kualitas dari produk lokal saat ini tidak main-main.
Selain itu brand lokal juga menawarkan desain orisinil dan otentik, serta lebih memahami kebutuhan atau preferensi konsumen, karena memiliki kedekatan jarak jika dibandingkan dengan produk global.Inilah yang menjadi daya tarik sehingga brand lokal menjadi unggul saat ini.

Disisi lain dukungan pemerintah melalui gerakan Bangga Indonesia juga mendorong pertumbuhan brand lokal meningkat di berbagai sektor industri, khususnya industri kreatif.

Devina Sugono, Co-Founder Basha menyebutkan bahwa perjalanan sepuluh tahun ini bukanlah perjalanan yang mudah, banyak adaptasi yang dilakukan oleh Basha hingga bisa berada di titik ini.

“Kalau kita mengingat di awal Basha 2014, mencari brand lokal sangat susah. Dulu kita ketok pintu dari satu brand lokal ke brand lokal lainnya untuk bergabung menjadi vendor Basha” ujar Devina.

Awalnya memang tidak banyak acara-acara sejenis Basha Market di Ssurabaya dan hal tersebut membuat Basha belum dapat mengukur tingkat kepuasaan masyarakat dan brand lokal mengenai acara ini. Sempat juga ada pertimbangan menjadikan Basha sebagai sesuatu yang lebih permanen.

“Pernah ada kepikiran hal tersebut namun ternyata apa yang kita pikirkan jauh berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di lapangan. Antusiasme masyarakat sangat tinggi, bahkan selalu meningkat di setiap tahunnya dan yang terpenting adalah dampak ke brand lokalnya juga sangat baik” ungkap Devina.

Basha kini mengganti jumlah penyelenggaraan yang biasanya dilakukan dilakukan 2-3 kali dalam setahun, kini hanya rutin diadakan sekali dalam setahun.

“Setelah beberapa tahun kami berjalan, format ini dirasa paling pas. Ternyata dampaknya jauh lebih besar dan jauh lebih baik untuk brand lokal,’ tambah Devina.

Basha Market bukan hanya tentang acara ‘market-marketan’ atau acara senang-senang belaka, Basha mencerminkan sebuah perjalanan industri kreatif yang memiliki kekuatan besar.

Banyak yang terdampak dalam satu kali penyelenggaraan Basha, sebut saja brand lokal yang memiliki kebutuhan untuk membuat kat log baru. Dari satu contoh itu saja ada berbagai aspek yang terdampak yakni, industri modelling, fotografer, fashion stylish studio foto, desainer grafis, concept director, dan masih banyak lainnya.

Hal ini yang dilihat Basha sebagai patokan, bahwa keberhasilan sebuah acara tidak hanya diukur dari seberapa ramainya dibicarakan, tapi juga dampaknya terhadap banyak aspek di industri kreatif. Ini adalah momen yang pas untuk semuanya urun serta berperan dalam membentuk kekuatan ekonomi lokal.

Christie Erin, Co-Founder menyebutkan bahwa Basha kini tidak lagi hanya memikirkan entang event kreatif saja, tapi juga sebuah pergerakan ekonomi.

“Saya mendapatkan berbagai testimoni dari teman-teman brand lokal dan juga pen giat industri kreatif bahwa semuanya mendapatkan project dari adanya Basha Market. Itu membuat kami lega dan senang, karena memang salah satu tujuan Basha ada disana. Selain itu kami menjadi saksi dari kerja kerasnya brand-brand lokal yang terlibat di Basha Market – Multiverse. Mereka membuat koleksi-koleksi baru, memperbanyak stock, dan sangat passionate dengan apa yang mereka kerjakan. Ini bukan lagi tentang Basha, tapi tentang 150 brand lokal dari berbagai daerah di Indonesia yang mau datang ke Surabaya dan ingin memberikan usaha yang paling terbaik untuk pencintanya,” jelas Erin.

Walaupun sudah memasuki usia kesepuluh, Basha merasa bahwa perjalanan kedepannya pasti akan lebih menantang, sehingga harus siap dengan berbagai amunisi untuk melewatinya.

“Oh jelas, sepuluh tahun lalu saat kita memulai ini, brand lokal gak banyak. Sekarang? Mungkin ada ribuan bahkan puluhan ribu di luar sana. Persaingan antar brand lokal semakin tinggi, sehingga kurasinya juga jadi sangat sulit. Itulah kenapa Basha juga selalu mau adaptasi dengan perkembangan hari ini dan bagi kami sudah saatnya kita regenerasi” ujar Erin.

Dari Basha, regenerasi dilakukan pada sisi marketing. Basha membuka sebanyak-banyaknya peluang kolaborasi dengan KOL, melaksanakan beberapa program-program baru yang efektif untuk saat ini, bahkan juga berani untuk melakukan regenerasi endor atau brand lokal yang terlibat.

“Regenerasi vendor disini bukan juga artinya vendor lama gak boleh ikut Basha ya, tapi vendor atau brand-brand lokal yang pernah terlibat di Basha sebelumnya harus mau mengikuti standar industri sekarang. Kami harus berani mengucapkan selamat tinggal untuk vendor yang tidak berkembang dan juga menerima vendor yang mampu membuka market baru. Apakah itu mudah? Jelas tidak! tapi ini harus kami lakukan agar semuanya bisa maju bersama,” jelas Erin.

Bicara tentang hari ini, kekuatan ekonomi sedang berada di Generasi Z, menurut Erin dan Devina itu sebuah tantangan baru, karena Basha dibuat awalnya dari dan untuk Generasi Milenial. Jadi, memasuki usia kesepuluh adalah waktu yang tepat untuk Basha melakukan regenerasi serta adaptasi.

Salah satunya dengan menghadirkan Basha Market Haul sebagai program yang menjanjikan, dimana brand lokal mendapatkan kesempatan untuk direview oleh KOL yang telah bekerjasama dengan Basha. Program ini ditujukan tidak hanya untuk brand baru yang belum pernah ikut Basha Market, tapi juga brand lama.

“Program ini benar-benar berjalan. Untuk brand yang baru bergabung sudah pasti ini menjanjikan, tapi untuk brand yang sebelumnya sudah pernah ikut Basha Market ini seperti memaksa mereka untuk terus up to date, mencari target pasar baru di luar zona nyaman mereka,” ujar Erin.

Menurut keduanya jika Basha terlalu nyaman dengan target pasar yang itu-itu saja, akan membuat industri ini tidak berjalan.

“Nanti kami jadi stuck, brand lokal yang terlibat juga tidak berkembang, itu kenapa penting bagi kita untuk terus beradaptasi,” imbuh Devina

Dekade ini, Basha Market menghadirkan tema Multiverse untuk melambangkan sebuah eksplorasi dan potensi yang tidak terbatas. Konsep Multiverse merupakan kelanjutan dari acara sebelumnya, Planet Z, dan Basha memilih bekerjasama kembali dengan desain studio asal Surabaya, Sciencewerk untuk merealisasikan konsep tersebut.

Selaras dengan konsep Multiverse, Basha Market ingin merayakan kekuatan kolaborasi yang sudah ada selama ini dan menjadikannya potensi ekonomi yang besar hingga tanpa batas.

“Kami berharap akan bisa terus menjadi platform kreatif yang lebih berkembang lagi nantinya. Kami ingin terus menjadi wadah sekaligus saksi dari lahirnya brand-brand lokal yang bagus hingga bisa menembus pasar internasional dan bersaing disana ,” tutup Erin.(vad)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini